Jumat, 26 Oktober 2012

kesempatan atau pilihan


Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan
itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan ,
Itupun adaah kesempatan .

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi,
Itu adalah pilihan .

Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain
Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik,
Datang bagai kesempatan pada kita.
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat :
"Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil"

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
Yang diciptakan hanya untukmu.
Tetapi tetap berpulang padamu

Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin
Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak...
Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita,
Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita,
Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari
seseorang yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan karena agamanya niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu'alam bish showab

Rabu, 24 Oktober 2012

apa yang diceritakan kepada anak di belakang kita

Saudaraku..
Abdullah bin Ahmad rahimahullah pernah menceritakan perihal ayahnya (Imam Ahmad):

"Ayahku terbiasa membaca sepertujuh al Qur'an setiap hari. Ia mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh hari. Dan iapun mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh malam. Ia mengakhirkan shalat Isya', lalu ia tidur beberapa saat. Lalu bangun dan shalat malam hi
ngga menjelang subuh. Selepas shalat subuh, ia berdo'a panjang. Setiap hari ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak 300 raka'at. Setelah usianya uzur, dan ia rasakan tubuhnya mulai melemah, maka ia kurangi separuhnya. Di mana ia shalat sunnah sebanyak 150 raka'at sehari."
(Mi'ah kisah min qashashi ash shalihin, Muh bin Hamid Abdul Wahhab).

Saudaraku..
Itulah profil orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan dalam meriwayatkan hadits dan membekali diri dengan ilmu. Tapi juga teladan bagi anak-anaknya dalam ibadah dan mengukir prestasi ubudiyah di hadapan-Nya.

Dari penuturan putera Imam Ahmad ini, dapat kita petik beberapa buah pelajaran dan manfaat darinya.

• Imam Ahmad, termasuk salah seorang ulama yang mampu mewariskan keshalihan pribadi dan ilmu pengetahuan terhadap anak-anak dan generasi sesudahnya. Dan hal ini yang jarang kita temukan pada ulama di zaman ini.

• Tarbiyah (pendidikan) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya.

• Diminta atau tidak. Kita sukai atau tidak. Sepengetahuan kita atau tidak. Di masa hidup kita atau sepeninggal kita. Pasti anak-anak kita akan menceritakan kepada orang lain tentang siapa kita di matanya. Baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya.

• Imam Ahmad adalah merupakan tipe orang tua yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Berbeda dengan kita. Barang kali mereka lebih mengenal kita dari kepribadian tercela; pelit, malas ibadah, tak mampu meredam emosi dan yang senada dengan itu.

• Kelebihan yang dimiliki oleh Imam Ahmad, mampu mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh hari dan setiap tujuh malam serta mampu melakukan shalat sunnah sebanyak 150 sampai 300 raka'at dalam sehari, merupakan karamah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan dicintai-Nya. Yang tak mungkin dilakukan oleh kita yang jauh di bawahnya dari kwalitas iman dan ubudiyahnya.

• Karamah, bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin, seperti kemampuan seseorang untuk melakukan shalat Jum'at di masjidil haram. Berlari di atas air. Terbang di udara. Memiliki kemampuan untuk meramal nasib seseorang dan seterusnya. Karena hal itu semua termasuk dalam katagori sihir. Karena diperoleh dengan jalan menjauhi berbagai aturan dan syari'at agama. Berbeda dengan karamah, yang tidak bisa diraih terkecuali dengan taqarrub kepada Allah swt.

• Berdekatan dengan kalamullah dan shalat malam serta do'a merupakan amalan istimewa di hadapan Allah. Yang dengannya Dia mencintai kita dan mengelompokkan kita menjadi ahlullah dan hamba-hamba khusus-Nya.

Saudaraku..
Bagaimana pendapat kita, apa yang selama ini dan akan dibicarakan anak-anak kita di belakang kita? Apakah mereka menceritakan kebaikan dan keteladanan kita dalam keluarga? Atau justru sebaliknya, menceritakan keburukan dan sisi-sisi gelap kehidupan kita dalam keluarga. Wallahu a'lam bishawab.

sudahkah kita menjadi orang yang bahagia hari ini ??

Saudaraku..
Abu Darda' ra pernah berkata:

"Allah mengaruniakan ilmu bagi orang-orang yang beruntung, dan Dia mengharamkan ilmu bagi mereka yang sengsara."

Saudaraku..
Abu Darda' ra memberi batasan yang jelas perihal orang-orang yang akan berbahagia di akherat. Demikian pula sebaliknya ia memberi ukuran yang terang mengenai orang yang akan sengsara d
i sana.

Dimudahkannya menggali ilmu pengetahuan. Dilancarkan proses belajar mengajar. Diberikan pemahaman dan daya serap yang tinggi terhadap ilmu. Mencintai orang yang berilmu dan yang meniti jalan ilmu. Dibukanya kran-kran ilmu di sela-sela kesibukannya dalam kerja dan menggeluti rutinitas sehari-hari. Senang menularkan ilmu kepada orang-orang di sekelilingnya. Tak patah arang saat gagal mendaki puncak ilmu. Lebih mencintai ilmu daripada harta benda dan yang senada dengan itu.

Jika yang demikian itu ada pada diri kita, berarti kita calon menjadi orang yang bahagia di akherat sana. Sudah barang tentu setelah mengecap kebahagiaan di sini. Di dunia ini.

Saudaraku..
Sebaliknya, merupakan tanda bahwa kita akan sengsara di alam keabadian dan kehidupan yang kekal di akherat sana, jika kita terhalangi meraih ilmu pengetahuan. Membenci orang-orang yang menghadiri majlis ilmu. Memusuhi mereka yang menularkan ilmu kepada orang lain. Gerah duduk di taman ilmu. Menghalang-halangi orang lain meraih pengetahuan agama dan seterusnya.

Saudaraku..
Mari mulai hari ini kita merenung sejenak. Mana yang lebih menguras pikiran kita, harta benda dan kenikmatan dunia yang ingin kita kecap? Ataukah ilmu pengetahuan yang kita kejar?.

Mana yang lebih dominan menyapa kita setiap hari. Ilmu pengetahuan ataukah godaan dunia?.

Ketika kita mengunjungi dunia maya. Apa yang terbersit di hati kita? Apakah kita ingin menjadikannya sebagai kunci ilmu bagi kita. Atau justru kita ingin berkeliling dunia dengannya?.

Jawabannya ada di hati kita. Apakah kita termasuk orang yang akan berbahagia di sana atau sebaliknya, kita menjadi orang yang merana yang tak ada ujungnya.

Ya Rabb, bukakanlah pintu-pintu ilmu pengetahuan untuk kami dan jangan Engkau halangi kami dari karunia-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

warna ujian yang sering kita tak sabar

Saudaraku…
Pada suatu hari Hudzaifah bin Yaman ra pernah ditanya seseorang mengenai orang hidup tapi tak ubahnya seperti mati?.
Ia menjawab:
اَلَّذِيْ لاَ يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ بِيَدِهِ وَلاَ بِلِسَانِهِ وَلاَ بِقَلْبِهِ
“Yaitu orang yang tak mencegah kemungkaran dengan tangannya, tidak juga dengan lisan dan hatinya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami). Saudaraku..
Jangan terpesona dengan tampilan luar. Rajin mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Jubah yang selalu dikenakan. Peci dan sorban yang menyertai kemana ia pergi. Mushaf al Qur’an yang selalu dibawa kemana-mana. Tasbih yang tergenggam di tangan. Dan seterusnya.
Jika dalam kesehariannya, ia tak pernah memberi warna keshalihan kepada orang lain. Tak pernah berbagi kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pernah ada upaya untuk menghilangkan virus maksiat dan mencabut akar dosa di lingkungannya. Bahkan ia membiarkan menjalarnya wabah kebodohan dan penyimpangan akidah, akhlak dan pemahaman agama di tengah-tengah masyarakat.
Sejatinya ia telah mengalami kematian bathin. Walaupun ia hidup secara zahir. Jantung ruhaninya telah berhenti berdetak walau raganya masih tetap bergerak.
Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya seperti tiada. Itulah pribahasa Arab untuk membahasakan seseorang yang tidak memberikan andil dan peran postitif di masyarakatnya.
Saudaraku..
Kita tentu tidak ingin mengalami kematian ruh sebelum kematian jasad. Oleh karena itu perlu kita buktikan bahwa kita masih layak dikelompokkan sebagai orang yang hidup. Yang bisa menjauhkan mudharat dan mara bahaya bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
Jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka kekuatan dan kekuasaan itu kita pergunakan untuk mendatangkan maslahat, kebaikan dan kebajikan untuk masyarakat. Memblokir dan bahkan menghalangi dan menutup semua jalan yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat.
Jika suara kita didengar oleh umat. Karena kita sebagai kyai, ustadz, penceramah dan yang senada dengan itu. Maka dengan lisan kita berjihad, bersungguh-sungguh mentransfer pemahaman yang benar ke dalam hati dan akal masyarakat. Menyingkirkan duri dosa dan maksiat yang dapat mencelakakan umat. Mengingatkan mereka dari perilaku dosa dan kecerobohan yang dapat melemparkan mereka ke dalam neraka.
Juga mendekatkan masyarakat kepada perilaku ahli surga. Yang mana kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit di dalam hati manusia.
Saudaraku..
Sebagai masyarakat umum alias awam. Kita pun tak bisa tinggal diam membiarkan bakteri maksiat dan dosa menyebar dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Minimal kita membentengi diri kita dan keluarga kita agar tak terjangkit wabah berbahaya tersebut.
Jika masing-masing keluarga memiliki pemahaman seperti ini, insyaallah maksiat dan dosa tidak akan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dan bahkan bisa jadi ia akan menyingkir dan menjauh dari daerah kita.
Saudaraku..
Jika kita tengok alam di sekitar kita saat ini. Perjudian sulit dihentikan. Rumah remang-remang semakin diminati sebagian orang. Orang yang tidak berpuasa justru bangga dengan keteledorannya. Masjid semakin sepi dari pengunjung. Al Qur’an semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. Praktek jual beli riba semakin semarak. Perzinaan semakin subur dan seterusnya.
Hal ini membuktikan bahwa tidak sedikit dari kaum muslimin dan muslimat. Dan mungkin juga kita. Yang telah bergelar al marhum. Meskipun nafas kita masih berhembus. Kita telah mengalami kematian ruh. Sebab tangan, lisan dan hati kita telah mati. Tak tergerak untuk memberikan warna bagi orang lain. Tak memiliki andil bagi perbaikan umat. Wallahu a’lam bishawab.