Rabu, 08 Mei 2013

Sejatinya Kita Kaya, Bukan miskin

Ada satu kisah menarik yang akan saya uraikan pada tulisan saya ini, yaitu kisah ketika antoni robbin seorang motivator no 1 dunia sewaktu melemparkan pertanyaan ke seluruh audiens nya, siapa yang ingin punya penghasilan 1 miliar perbulan ? maka serentak seluruuuuh audiens mengacungkan jari tangannya, akan tetapi setelah seluruh audiens mengancungkan jari tangannya antoni robbin melanjutkan pertanyaanya sengan sebuah pernyataan, “tapi dengan cuci darah seminggu sekali,,,” kawan kawan tau apa yang terjadi setelah antoni robbin mengatakan seperti itu ??? iya,, benar,, serentak pula seluruh audiens menurunkan tangannya, bahkan sampai tak ada lagi yang terlihat dari seorang audien yang masih mengancungkan jarinya.
Mungkin ketika saya gambarkan penyakit apa yang harus diderita saat dikatakan “tapi dengan cuci darah seminggu sekali” saya yakin penyakit itu tergambar dalam fikiran teman-teman, tetapi apa yang terjadi ? audiens justru lebih mementingkan kesehatannya bila dibandingkan dengan banyaknya harta yang akan ia miliki ketika memiliki penghasilan 1 miliar perbulan.
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah,, kita sejatinya adalah orang yang KAYA, bukan MISKIN !! kalopun ada orang yang mengatakan saya MISKIN, hanya orang yang kurang cerdas saja yang mengatakan demikian. Pada dasarnya MISKIN dan KAYA itu hanyalah sesuah persepsi kita pada seseorang, kita bisa menilai berdasarkan pada apa yang tampak dan pada apa yang tak tampak, saya berikan contoh lagi, saya pernah ditanya oleh seorang teman, mas kasihan ya ? orang itu miskin banget,, tapi kemudian saya jawab “ justru lebih kaya dia daripada kamu ? kemudian dia menjawab, lho kenapa ? mas  Tanya kamu, apa kamu lihat dia mengeluh ? atau mungkin dia pernah mengeluhkan keadaannya kepadamu ? kalau tidak pernah, itu tandanya kehidupan mereka cukup bahkan lebih,, jika mereka merasa kurang maka sudah pasti dia mengeluh.”  Benar kan saya jawab seperti itu ya ? kemudian teman-teman tau apa jawaban dari teman saya ? ia jawab, jadi kuncinya itu di mengeluh itu ya mas ? kalo dia tidak mengeluh berarti cukup atau kaya, kalo mengeluh berarti kurang atau bahkan miskin, trus kalo ada orang yang kaya yang mengeluh, gimana mas ?? jawabannya saya yakin temen-temen mengetahuinya.
Saudaraku ,,, “ seorang ustadz pernah memberikan sebuah ilustrasi dari sebuah hadits “ bahwa seluruh keindahan dan isi dunia tak lebih dari patahan sayap nyamuk “. Lho kenapa bisa begitu? Atau mungkin, mengapa kok demikian ? jadi begini, mungkin teman-teman pernah mendengar peristiwa isra’ dan dimi’rajkannya Nabi Muhammad saw. Jadi tatkala Nabi di Mi’rajkan kelangit ketujuh, pada keberangkatan meninggalkan masjidil aqsa, nabi selalu menoleh kearah bumi kita, Bumi yang awalnya besar semakin jauh dilihat semakin kecil, hingga besarnya tak ubahnya seperti patahan sayap nyamuk.  Maka dari itu saudaraku, saya menyeru kepada kalian untuk ayo kita harus menganggap bumi ini kecil, dengan cara kita pandang ia dari jauh melalui mata hati kita, jangan pernah bersedih karena kehilangan keindahan dunia, ataupun karna tidak mendapatkan keindahan dunia, tapi bersedihlah jikalau sampai hari ini kita masih sering mengeluh yang membuat Allah menjadi jauh dari diri kita sehingga menyebabkan kasih sayang Allah kepada kita melebihi langit dan bumi terasa jauh dan tak akan pernah kita dapatkan. Wallahu a’lam bisshawab. .

Selasa, 07 Mei 2013

Kita Terlahir Miskin, Kenapa Bersedih, , , ,, ???



Mengawali tulisan ini, kan ku tuliskan sebuah hadits dari rasulullah saw, bahwa “Allah tidak akan mengambil nyawa seseorang, sampai Allah sempurnakan rizkinya”. Jika kita berbicara masalah rizki, 2 buah kata yang ingin saya sampaikan “Jangan Khawatir”. Rizki,, itu sudah menjadi hak  mutlak pemberian Allah kepada para hamba-hambanya, baik kepada hambanya yang beriman kepadanya maupun hambaNya yang ingkar  terhadap Allah. Mengenai rizki, baik diusahakan maupun tanpa usaha, sebenarnya rizki yang sebenarnya untuk kita , maka sejatinya tidak akan pernah tertukar dan akan tetap menjadi milik kita.

Akan tetapi yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa kita harus menyadari  dan juga memahami bahwa takaran rizki masing masing orang yang Allah berikan itu sejatinya adalah berbeda, dengan kata lain takaran rizki masing masing orang tidaklah sama dan pasti berbeda. Berapa persen bedanya atau mungkin berapa juta bedanya,,?? Allahu a’lam,, insyaAllah hanya Allah yang tahu.

Pada beberapa kehidupan dalam satu generasi terkadang ada orang orang yang Allah berikan kelebihan dalam hal rizki, akan tetapi ada juga orang-orang yang Allah berikan kekurangan dalam hal rizki. Mungkin ketika saya bahas masalah ini, maka di fikiran teman-teman akan muncul pertanyaan, “berarti Allah itu tidak adil,,?? Karena beberap orang diberikan kelebihan akan tetapi beberap orang pula diberikan kekurangan dalam hal rizki. zaman sekarang mana ada orang yang mau miskin, bener apa betul ?

Jadi begini, saya akan mencoba menjelasakan sedikit saja,,, pada dasarnya orang miskin dan orang kaya sama sama masuk surga ? bener kan ? kecuali yang kafir lho yaa,,, jika orientasi yang kita pakai adalah akhirat. Akan tetapi ada satu hal yang menjadi kelebihan orang miskin dan tidak akan pernah didapatkan oleh orang kaya adalah, bahwa orang miskin yang mau bersabar jauh lebih cepat masuk surga bila dibandingkan dengan orang kaya yang bersyukur, mengapa demikian ?? karna tidak ada yang perlu dihisab lagi dari orang miskin, sedangkan perhitungan orang kaya masalah hartanya sangatlah lama… meskipun kita tahu bahwa miskin yang bersabar dan kaya yang bersyukur sama-sama masuk surge. Akan tetapi tetap orang miskin lebih dahulu masuk surga. Jadi kuninya disni adalah jika memang kita terlahir dalam keadaan miskin maka bersabarlah…

Saudaraku… akhir dari tulisan ini ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan bahwa, “Allah tidak akan menanyakan kepada kamu, mengapa kamu miskin dan kenapa pula kamu menjadi kaya? Tetapi yang akan Allah tanyakankepadamu  adalah, hartamu engkau dapatkan darimana dan engkau keluarkan untuk apa ?. Allah tidak akan menghukumi kamu karna kemiskinanmu, tetapi yang akan Allah tanyakan kepadamu adalah, bagaimana kamu menyikapi keadaanmu saat Allah berikan kekurangan harta untukmu ? tetaplah bersyukur dan teruslah bersabar, bukankah Allah selalu bersama-sama orang yang sabar, , , ,



Kamis, 28 Februari 2013

Dalam Tarbiyah aku Belajar

Embun itu, ketika engkau melihatnya, akan terlihat bening, ketika engkau merasakannya, akan terasa sejuk dan segar. Embun di pagi itu, selalu dan terus menyejukkan dedaunan dan rerumputan di pagi hari, dan membawa suasana segar, bagi siapa pun yang merasakannya. Embun itu, pada akhirnya akan selalu memberikan kesegaran bagi yang percaya akan manfaat embun.
Begitulah tarbiyah ini ada, ibarat embun, tarbiyah akan menyegarkan kembali hati-hati kita yang mulai kering, akan menyegarkan kembali jiwa-jiwa kita yang mulai melapuk, kering karena iman kita yang compang-camping, melapuk karena jiwa ini terlampau banyak dosa. Bagi yang yakin akan kekuatan dari tarbiyah, maka tarbiyah ibarat embun pagi yang akan menyegarkan dedaunan, sehingga dedaunan terlihat segar, siap menantang teriknya matahari,  siap untuk menatap dunia. Begitulah tarbiyah ini, dia akan selalu memberikan kesegaran kepada hati-hati yang kering, kepada jiwa-jiwa yang lapuk, sehingga hati kembali segar, seperti dedaunan pagi hari, sehingga jiwa kembali kokoh, setegar pepohonan pagi.
Embun pagi, ia mengajari kita, tentang harmoni, karena ia meneteskan kesegaran itu kesemuanya, bukan hanya daun, bukan hanya rumput, tetapi semuanya. Dedaunan, rerumputan, pepohonan pagi, serangga-serangga kecil, semuanya merasakan kesejukan embun pagi. Semuanya merasakan kesegarannya, semua merasakan kelembutan sentuhan tetesannya. Semua menikmatinya. Embun pagi. Tarbiyah. Seharusnya juga demikian. Tarbiyah mengajarkan, bukan hanya dia, bukan hanya mereka, bukan hanya ini, bukan hanya itu, tetapi semuanya. Tetapi menyeluruh. Karena tarbiyah ada untuk menjadi kebermanfaatan bagi semua, bukan hanya untuk saya, bukan hanya untuk dia, bukan hanya untuk mereka, bukan hanya untuk golongan A, bukan hanya untuk golongan C. Semuanya. Ya. Semuanya. Karena tarbiyah ada adalah untuk rahmat bagi seluruh alam.
Dan kalaupun tarbiyah hari ini sedang menuju kearah yang lebih luas, menegara, atau kalau bahasanya Ust. Gunawan adalah menyongsong mihwar dauli, maka sekali lagi ketika kita pun harus bersikap menegara dengan membangun mentalitas negarawan, dan tentu kita harus belajar kepada embun pagi itu. Tentang ketulusannya, tentang kelembutannya meneteskan air kepada dedaunan, kepada rerumputan, kepada pepohonan, kepada alam. Sehingga alam pagi itu terlihat segar. Lalu kemudian kita terhangatkan oleh munculnya mentari pagi, dan tetap merasakan kesejukan embun pagi. Karena yang terpenting ketika kita akan menyongsong tahapan baru dalam tarbiyah, dalam dakwah, adalah tentang mentalitas kita. Mentalitas kita harus seperti embun pagi. Menyejukkan alam, menyegarkan lingkungan, dan juga lembut, dan juga antusias untuk senantiasa memberikan kesejukan kepada alam.
Mentalitas negarawan, mental inilah yang harus kita bangun ketika hari ini kita memimpikan satu tahapan dakwah yang meluas, menyesuaikan dengan mihwar atau tahapan yang ada, inilah konsekuensi yang harus dilakukan. Ya, tentang kedewasaan sikap kita, tentang mumpuninya kapasitas yang kita miliki dalam ranah kontribusi, tentang kearifan kita dalam berpijak dan menentukan segala keputusan, tentang sepuluh rukun yang seharusnya kita tanamkan dalam setiap aktivitas kita.
Tsiqah. Percaya saja. Bahwa bersama kesejukan embun tarbiyah adalah solusinya. Bersama kesejukan, lalu menikmati kelembutan belaian dan sentuhan embun tarbiyah adalah bagian dari solusi, untuk menyegarkan kembali lingkungan kita, menyejukkan kembali negara ini, memberikan nuansa surgawi kepada lingkungan kita, kepada masyarakat kita, kepada alam ini.
Tsiqah saja. Karena visi embun yang begitu agung, yaitu menyegarkan dedaunan yang mulai layu, menyejukkan pagi yang habis pekat, dan memberikan harmoni bagi alam. Begitu juga visi tarbiyah ini, yang ingin menyegarkan dengan harum wewangian surgawi, menyejukkan alam dengan kesturi-kesturi nirwana. Ah, indahnya. Nikmatnya. Bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan diajari, bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya kita menjadi dewasa, bagaimana seharusnya kita menjadi kebermanfaatan sepenuhnya bagi negara ini, bagi umat ini. Dan yakinlah, bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan menjadi harmoni. Yakinlah. Dan tetaplah bersama sejuknya embun tarbiyah

Rabu, 27 Februari 2013

Kerinduan


Rasanya tak mudah meluapkan tiap-tiap yang kurasa. Rindu ini tampaknya menjadi tumpukan yang berdebu, telah begitu usang. Wajahnya tak mampu ku lukis walau sudah dalam-dalam ku bayangkan. Aku selalu tak mampu membentuk bayangnya. Hhhhhhhhhhhhh…
Ku menghela nafas disela hujan yang mengguyur bumi, seakan mengerti bahwa aku merasakan kesedihan hebat yang rasanya mengguncang jiwa. Padahal aku saja tak mampu menggambarkannya dalam angan, namun mengapa rindu ini seakan merobek jiwaku, menghentak tiap-tiap rasaku.
Seperti biasa langkah kaki mengajakku tuk mencari satu titik terang di penghujung sana. Aku menuju kesuksesan yang Allah sediakan pada tiap makhlukNya, tinggal jalan mana yang hendak kita lewati, jalan yang baik atau yang tidak seharusnya.
“Assalamu’alaikum hujan” sapaku pada tetesan langit, sang penyejuk penuh arif. Ia tak pernah menyalahkanku karena selalu bercerita padanya tentang apa-apa yang kurasa, apa-apa yang ku alami. Ia  kini jadi sahabat baruku, ku mencurahkan padanya. Menganggap ia sebagai sandaran ku, walau ia tak mampu menjawab tapi itu cukup untukku, melegakan sedikit sesakku. Aku memang jiwa tertutup yang tak mampu  dengan mudah utarakan sesuatu yang menggedor pintu hati tuk tertumpahkan, aku hanya mampu diam, tak bicara dan hanya mampu jalan ditempat. Ya begitulah aku.
Aku utarakan maksud hati yang mulai merindu seseorang dalam dekapan ukhuwah yang berada pada satu ikatan tarbiyah.
***
Setidaknya tegakku di waktu Dhuha-Nya mampu menenangkanku dalam rindu kemarin yang masih berbekas hingga kini, mataku saja masih terpancar sinar terekam memoriku atas apa yang ku rasa kini.
“Sungguh kutahu Ya Rabbana ku tak pantas tuk mengeluh walau hanya secuil. NikmatMu tiada mampu menyaingi dengan apa yang Kau berikan padaku. Tapi, ku hanya mampu mengadu padaMu atas angan yang kurasa tiap kali ku mengangankannya dalam ingatan, mencoba merasakan hangatnya dalam candaan bersamanya, Sungguh ya Rabb, ikhlaskanlah hati ini atas TakdirMu agar ku mampu melenggangkan langkah kembali tuk merajut mimpi dalam cintaMu, meraih ridha dalam senyum dibingkai takdir”
Kadang ada sedih di hatiku, aku tak begitu mengenalnya, aku hanya tau sedikit akan perangai dan sikapnya, apa makanan kesukaannya, apa hobinya, namun ku tau Allah pasti punya rencana kuat kenapa aku tak harus mengetahui itu, aku yakin inilah yang terbaik dari-Nya.
Hari ini hujan kembali turun.
04.00

***
kasih…
Saat jiwa ini mencoba menilik bagaimana rautmu, ku hanya mendapatkan keburaman yang makin tak jelas. Mengapa ya ? Padahal aku hanya berusaha tuk melukiskan wajahmu dalam kanvas imajinasiku.
Ku hanya ingin kau ada dalam khayal, itu saja.
Namun, nampaknya Allah tak mengizinkannya.
Aku tak sama sekali mampu
Hhhmmm…
Namun, biarlah apa yang terjadi kini berdasarkan ingin-Nya.
Karena, bukankah rencana-Nya adalah yang terbaik untuk jiwa ini?
Maka itu, ku cukupkan rindu ini teruntukmu
dengan iringan doa khusus untukmu, dari aku pengagummu…

Senin, 14 Januari 2013

Di Jalan Dakwah Aku Pacaran

Di Jalan Dakwah Aku Menikah, sebuah karya Ustadz Cahyadi Takariawan yang menjelaskan secara gamblang tentang pernikahan yang “benar-benar” menjadikan Islam dan dakwah sebagai dasarnya. Namun kali ini bukan itu yang hendak saya bahas, sedikit berbeda: “Di Jalan Dakwah Aku Pacaran”.
Witing tresno jalaran soko kulino
Ungkapan pepatah jawa ini yang secara garis besar dapat diartikan “cinta tumbuh dari tingginya intensitas pertemuan” berlaku umum, baik bagi masyarakat umum maupun mereka yang mendapat label “aktivis dakwah”. Semuanya sama karena pada dasarnya adalah fitrah manusia yang saling menyukai antara lawan jenis.
Pertemuan yang begitu intens di setiap rapat, syura, pembahasan teknis, hingga hubungan dua arah via telepon, SMS, chatting, dsb yang pada akhirnya membuat dua orang, pria dan wanita, merasakan kedekatan yang berbeda. Hingga akhirnya chatting, telepon, SMS, diperpanjang durasinya padahal kebutuhan syar’i sudahlah selesai dibahas. Atau, karena memang masih panjang pembahasan maka menyempatkan waktu untuk bertemu, lama sekali, berdua saja. Seolah terlupa ada pihak ketiga yang senantiasa membisikkan was-was di hati manusia serta seolah terlupa bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memandang mereka dengan jelas dan sempurna.
“Kami menjaga hati”, ucap mereka.
Bagaimana mungkin hati terjaga sedangkan raganya tidak? Mata itu intens menatap “dia” yang ada di hadapannya, pikiran itu melayang berangan seandainya “dia” senantiasa berada di sampingnya. Maka entah bagaimana segala macam alasan dan pembenaran dibuat untuk melegalkan segalanya.
Bukankah masih jelas tulisan nasihat dari ‘alim kita, (alm) Ust. Rahmat Abdullah:
Di mana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau
bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkau pun berani tampil di depan
seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga
getarannya tak terasa lagi saat maksiat menggodamu dan engkau menikmatinya?
Ya, lumpur-lumpur dosa yang dilakukan telah membuat hati menjadi beku. Pembenaran yang dicari-cari membuat kebenaran menghindarkan diri, serta maksiat yang dilakukan setiap hari seolah menjadi kebutuhan manusiawi.
Tak ada lagi tembok malu yang menjadi pengangkat kemuliaan, tak ada lagi jiwa yang takut sepenuhnya kepada Illahi Rabbi, serta tak ada lagi pemuda yang kritis dan bergelora karena semangatnya padam termakan kelalaian akhlaqnya. Tak lagi ia berani berkata ini dan itu karena pikirannya kini hanya tentang “si merah jambu”. Tak lagi terlihat dahsyatnya gerak kontribusinya karena jiwa yang alpa menghambat raganya, serta izzah yang biasa terpancar dari matanya redup seketika.
Teringat tulisan Ibnu Qayyim al-Jauzi di dalam buku Miftaahu Daaris-Sa’aadah:
Pada hakikatnya, hati yang selamat adalah hati yang berserah diri kepada Tuhannya, yang menyembah-Nya penuh dengan rasa malu, penuh harap, dan penuh hasrat. Dengan demikian, ia lebur dalam cinta kepada Allah SWT, dan bersih dari segala sesuatu selain Dia. Ia lebur dalam rasa takut kepada-Nya, dan tidak ada rasa takut kepada yang lain. Ia lebur dalam pengharapan kepada-Nya, dan tidak mengharapkan selain Dia. Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dengan penuh keimanan dan ketaatan. Ia berserah diri kepada qadha dan qadhar-Nya, sehingga ia tidak berprasangka buruk, menentang, dan marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia berserah diri kepada Tuhannya dengan penuh kepatuhan, kerendahan, kehinaan, dan kehambaannya.
Lalu bagaimana bisa hati itu tetap terjaga jika ia mencintai yang belum layak dicintai, melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya dengan berjuta pembenaran, serta mendahului qadha dan qadar Allah seolah tak percaya akan keputusan terbaik-Nya kelak.
Betapa memang kita jauh dari kualitas mulia, saat pemuda Gaza menjaga kesucian mereka dan juga berjihad di jalan Allah Ta’ala, pemuda muslim di Indonesia, yang mendapat (atau tidak) label “kader dakwah”, masih sibuk dengan urusan hati merah jambu.
Betapa jauh!

Jumat, 09 November 2012

sebatas mana engkau percaya

01. mata itu terbatas, maka jangan dengannya engkau melihat | akal itu terbatas, maka jangan dengannya engkau berpikir
02. bila terbatas mata engkau percaya, maka surga hanya khayalan | bila terbatas akal engkau berpikir, maka kebangkitan Islam hanya angan
03. begitulah Rasullah dihina kafir-Quraisy saat kabarkan Isra-Mi'raj | karena mereka menilai cerita dengan standar mata dan logika akal
04. begitulah Rasulullah ditertawakan yahudi saat kabarkan takluknya Konstantinopel dan Roma | karena terbatas mereka pada mata dan akal
05. berbeda dengan Abu Bakar | kenapa beliau digelari Ash-Shiddiq? | karena beliau selalu membenarkan Rasulullah
06. Abu Bakar benarkan Isra-Mi'raj tiada bisa gunakan mata lagi akal | tapi gunakan keyakinan akan kebenaran lisan Rasulullah
07. "Jika memang benar beliau mengatakannya, maka aku percaya" - Abu Bakar | tukasan beliau melampai pandangan mata dan pandangan akal
08. bagi Abu Bakar | tidaklah penting suatu perkara bisa dibuktikan mata atau logika akal | yang penting ia terucap lisan Rasulullah
09. bukan "apa" yang disampaikan, tapi "siapa" yang menyampaikan kabar | itu yang penting bagi Abu Bakar | bila dari Rasul, tiada keraguan
10. pandangan Abu Bakar melebihi pandangan mata atau logika akal | ia mengajarkan pandangan tertinggi, yaitu berdasarkan dalil
11. tidak peduli fakta, abaikan realita | bila Rasulullah sudah berucap | realita dan fakta tidak penting samasekali
12. Ash-Shiddiq berarti gelar yang terpercaya, shahabat yang terdekat | disematkan pada Abu Bakar karena keyakinannya pada seTIAP lisan Rasul
13. kini tersisa bagi kita 2 pilihan | ikuti pandangan mata dan akal lalu abaikan Rasulullah | atau yakin pada Rasulullah dan abaikan selainnya
14. Rasulullah janjikan kebangkitan Islam | satu masa dimana dunia akan kembali dipimpin Khilafah yang menjamin penerapan Syariah
15. tiada peduli seberapa jauh penerapan Syariah-Khilafah dengan fakta dan realita | kami yakin Rasulullah mustahil berbohong
16. tiada peduli seberapa mustahil | kami yakin Islam akan bangkit | because I choose to believe, I insist to believe
17. because I choose to believe | when there's no way, I'll make one
Bisa bergurau denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
selalu ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

"tetaplah istiqamah,, karna hanya itu yang aku harapkan dan banggakan darimu"

Jumat, 26 Oktober 2012

kesempatan atau pilihan


Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan

Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan
itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan ,
Itupun adaah kesempatan .

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi,
Itu adalah pilihan .

Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain
Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik,
Datang bagai kesempatan pada kita.
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat :
"Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil"

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
Yang diciptakan hanya untukmu.
Tetapi tetap berpulang padamu

Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin
Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak...
Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita,
Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita,
Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari
seseorang yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan karena agamanya niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu'alam bish showab

Rabu, 24 Oktober 2012

apa yang diceritakan kepada anak di belakang kita

Saudaraku..
Abdullah bin Ahmad rahimahullah pernah menceritakan perihal ayahnya (Imam Ahmad):

"Ayahku terbiasa membaca sepertujuh al Qur'an setiap hari. Ia mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh hari. Dan iapun mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh malam. Ia mengakhirkan shalat Isya', lalu ia tidur beberapa saat. Lalu bangun dan shalat malam hi
ngga menjelang subuh. Selepas shalat subuh, ia berdo'a panjang. Setiap hari ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak 300 raka'at. Setelah usianya uzur, dan ia rasakan tubuhnya mulai melemah, maka ia kurangi separuhnya. Di mana ia shalat sunnah sebanyak 150 raka'at sehari."
(Mi'ah kisah min qashashi ash shalihin, Muh bin Hamid Abdul Wahhab).

Saudaraku..
Itulah profil orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan dalam meriwayatkan hadits dan membekali diri dengan ilmu. Tapi juga teladan bagi anak-anaknya dalam ibadah dan mengukir prestasi ubudiyah di hadapan-Nya.

Dari penuturan putera Imam Ahmad ini, dapat kita petik beberapa buah pelajaran dan manfaat darinya.

• Imam Ahmad, termasuk salah seorang ulama yang mampu mewariskan keshalihan pribadi dan ilmu pengetahuan terhadap anak-anak dan generasi sesudahnya. Dan hal ini yang jarang kita temukan pada ulama di zaman ini.

• Tarbiyah (pendidikan) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya.

• Diminta atau tidak. Kita sukai atau tidak. Sepengetahuan kita atau tidak. Di masa hidup kita atau sepeninggal kita. Pasti anak-anak kita akan menceritakan kepada orang lain tentang siapa kita di matanya. Baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya.

• Imam Ahmad adalah merupakan tipe orang tua yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Berbeda dengan kita. Barang kali mereka lebih mengenal kita dari kepribadian tercela; pelit, malas ibadah, tak mampu meredam emosi dan yang senada dengan itu.

• Kelebihan yang dimiliki oleh Imam Ahmad, mampu mengkhatamkan al Qur'an setiap tujuh hari dan setiap tujuh malam serta mampu melakukan shalat sunnah sebanyak 150 sampai 300 raka'at dalam sehari, merupakan karamah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan dicintai-Nya. Yang tak mungkin dilakukan oleh kita yang jauh di bawahnya dari kwalitas iman dan ubudiyahnya.

• Karamah, bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin, seperti kemampuan seseorang untuk melakukan shalat Jum'at di masjidil haram. Berlari di atas air. Terbang di udara. Memiliki kemampuan untuk meramal nasib seseorang dan seterusnya. Karena hal itu semua termasuk dalam katagori sihir. Karena diperoleh dengan jalan menjauhi berbagai aturan dan syari'at agama. Berbeda dengan karamah, yang tidak bisa diraih terkecuali dengan taqarrub kepada Allah swt.

• Berdekatan dengan kalamullah dan shalat malam serta do'a merupakan amalan istimewa di hadapan Allah. Yang dengannya Dia mencintai kita dan mengelompokkan kita menjadi ahlullah dan hamba-hamba khusus-Nya.

Saudaraku..
Bagaimana pendapat kita, apa yang selama ini dan akan dibicarakan anak-anak kita di belakang kita? Apakah mereka menceritakan kebaikan dan keteladanan kita dalam keluarga? Atau justru sebaliknya, menceritakan keburukan dan sisi-sisi gelap kehidupan kita dalam keluarga. Wallahu a'lam bishawab.

sudahkah kita menjadi orang yang bahagia hari ini ??

Saudaraku..
Abu Darda' ra pernah berkata:

"Allah mengaruniakan ilmu bagi orang-orang yang beruntung, dan Dia mengharamkan ilmu bagi mereka yang sengsara."

Saudaraku..
Abu Darda' ra memberi batasan yang jelas perihal orang-orang yang akan berbahagia di akherat. Demikian pula sebaliknya ia memberi ukuran yang terang mengenai orang yang akan sengsara d
i sana.

Dimudahkannya menggali ilmu pengetahuan. Dilancarkan proses belajar mengajar. Diberikan pemahaman dan daya serap yang tinggi terhadap ilmu. Mencintai orang yang berilmu dan yang meniti jalan ilmu. Dibukanya kran-kran ilmu di sela-sela kesibukannya dalam kerja dan menggeluti rutinitas sehari-hari. Senang menularkan ilmu kepada orang-orang di sekelilingnya. Tak patah arang saat gagal mendaki puncak ilmu. Lebih mencintai ilmu daripada harta benda dan yang senada dengan itu.

Jika yang demikian itu ada pada diri kita, berarti kita calon menjadi orang yang bahagia di akherat sana. Sudah barang tentu setelah mengecap kebahagiaan di sini. Di dunia ini.

Saudaraku..
Sebaliknya, merupakan tanda bahwa kita akan sengsara di alam keabadian dan kehidupan yang kekal di akherat sana, jika kita terhalangi meraih ilmu pengetahuan. Membenci orang-orang yang menghadiri majlis ilmu. Memusuhi mereka yang menularkan ilmu kepada orang lain. Gerah duduk di taman ilmu. Menghalang-halangi orang lain meraih pengetahuan agama dan seterusnya.

Saudaraku..
Mari mulai hari ini kita merenung sejenak. Mana yang lebih menguras pikiran kita, harta benda dan kenikmatan dunia yang ingin kita kecap? Ataukah ilmu pengetahuan yang kita kejar?.

Mana yang lebih dominan menyapa kita setiap hari. Ilmu pengetahuan ataukah godaan dunia?.

Ketika kita mengunjungi dunia maya. Apa yang terbersit di hati kita? Apakah kita ingin menjadikannya sebagai kunci ilmu bagi kita. Atau justru kita ingin berkeliling dunia dengannya?.

Jawabannya ada di hati kita. Apakah kita termasuk orang yang akan berbahagia di sana atau sebaliknya, kita menjadi orang yang merana yang tak ada ujungnya.

Ya Rabb, bukakanlah pintu-pintu ilmu pengetahuan untuk kami dan jangan Engkau halangi kami dari karunia-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

warna ujian yang sering kita tak sabar

Saudaraku…
Pada suatu hari Hudzaifah bin Yaman ra pernah ditanya seseorang mengenai orang hidup tapi tak ubahnya seperti mati?.
Ia menjawab:
اَلَّذِيْ لاَ يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ بِيَدِهِ وَلاَ بِلِسَانِهِ وَلاَ بِقَلْبِهِ
“Yaitu orang yang tak mencegah kemungkaran dengan tangannya, tidak juga dengan lisan dan hatinya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami). Saudaraku..
Jangan terpesona dengan tampilan luar. Rajin mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Jubah yang selalu dikenakan. Peci dan sorban yang menyertai kemana ia pergi. Mushaf al Qur’an yang selalu dibawa kemana-mana. Tasbih yang tergenggam di tangan. Dan seterusnya.
Jika dalam kesehariannya, ia tak pernah memberi warna keshalihan kepada orang lain. Tak pernah berbagi kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pernah ada upaya untuk menghilangkan virus maksiat dan mencabut akar dosa di lingkungannya. Bahkan ia membiarkan menjalarnya wabah kebodohan dan penyimpangan akidah, akhlak dan pemahaman agama di tengah-tengah masyarakat.
Sejatinya ia telah mengalami kematian bathin. Walaupun ia hidup secara zahir. Jantung ruhaninya telah berhenti berdetak walau raganya masih tetap bergerak.
Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya seperti tiada. Itulah pribahasa Arab untuk membahasakan seseorang yang tidak memberikan andil dan peran postitif di masyarakatnya.
Saudaraku..
Kita tentu tidak ingin mengalami kematian ruh sebelum kematian jasad. Oleh karena itu perlu kita buktikan bahwa kita masih layak dikelompokkan sebagai orang yang hidup. Yang bisa menjauhkan mudharat dan mara bahaya bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
Jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka kekuatan dan kekuasaan itu kita pergunakan untuk mendatangkan maslahat, kebaikan dan kebajikan untuk masyarakat. Memblokir dan bahkan menghalangi dan menutup semua jalan yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat.
Jika suara kita didengar oleh umat. Karena kita sebagai kyai, ustadz, penceramah dan yang senada dengan itu. Maka dengan lisan kita berjihad, bersungguh-sungguh mentransfer pemahaman yang benar ke dalam hati dan akal masyarakat. Menyingkirkan duri dosa dan maksiat yang dapat mencelakakan umat. Mengingatkan mereka dari perilaku dosa dan kecerobohan yang dapat melemparkan mereka ke dalam neraka.
Juga mendekatkan masyarakat kepada perilaku ahli surga. Yang mana kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit di dalam hati manusia.
Saudaraku..
Sebagai masyarakat umum alias awam. Kita pun tak bisa tinggal diam membiarkan bakteri maksiat dan dosa menyebar dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Minimal kita membentengi diri kita dan keluarga kita agar tak terjangkit wabah berbahaya tersebut.
Jika masing-masing keluarga memiliki pemahaman seperti ini, insyaallah maksiat dan dosa tidak akan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dan bahkan bisa jadi ia akan menyingkir dan menjauh dari daerah kita.
Saudaraku..
Jika kita tengok alam di sekitar kita saat ini. Perjudian sulit dihentikan. Rumah remang-remang semakin diminati sebagian orang. Orang yang tidak berpuasa justru bangga dengan keteledorannya. Masjid semakin sepi dari pengunjung. Al Qur’an semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. Praktek jual beli riba semakin semarak. Perzinaan semakin subur dan seterusnya.
Hal ini membuktikan bahwa tidak sedikit dari kaum muslimin dan muslimat. Dan mungkin juga kita. Yang telah bergelar al marhum. Meskipun nafas kita masih berhembus. Kita telah mengalami kematian ruh. Sebab tangan, lisan dan hati kita telah mati. Tak tergerak untuk memberikan warna bagi orang lain. Tak memiliki andil bagi perbaikan umat. Wallahu a’lam bishawab.

orang hidup seperti orang mati

Saudaraku…
Pada suatu hari Hudzaifah bin Yaman ra pernah ditanya seseorang mengenai orang hidup tapi tak ubahnya seperti mati?.
Ia menjawab:
اَلَّذِيْ لاَ يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ بِيَدِهِ وَلاَ بِلِسَانِهِ وَلاَ بِقَلْبِهِ
“Yaitu orang yang tak mencegah kemungkaran dengan tangannya, tidak juga dengan lisan dan hatinya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami). Saudaraku..
Jangan terpesona dengan tampilan luar. Rajin mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Jubah yang selalu dikenakan. Peci dan sorban yang menyertai kemana ia pergi. Mushaf al Qur’an yang selalu dibawa kemana-mana. Tasbih yang tergenggam di tangan. Dan seterusnya.
Jika dalam kesehariannya, ia tak pernah memberi warna keshalihan kepada orang lain. Tak pernah berbagi kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pernah ada upaya untuk menghilangkan virus maksiat dan mencabut akar dosa di lingkungannya. Bahkan ia membiarkan menjalarnya wabah kebodohan dan penyimpangan akidah, akhlak dan pemahaman agama di tengah-tengah masyarakat.
Sejatinya ia telah mengalami kematian bathin. Walaupun ia hidup secara zahir. Jantung ruhaninya telah berhenti berdetak walau raganya masih tetap bergerak.
Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya seperti tiada. Itulah pribahasa Arab untuk membahasakan seseorang yang tidak memberikan andil dan peran postitif di masyarakatnya.
Saudaraku..
Kita tentu tidak ingin mengalami kematian ruh sebelum kematian jasad. Oleh karena itu perlu kita buktikan bahwa kita masih layak dikelompokkan sebagai orang yang hidup. Yang bisa menjauhkan mudharat dan mara bahaya bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
Jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka kekuatan dan kekuasaan itu kita pergunakan untuk mendatangkan maslahat, kebaikan dan kebajikan untuk masyarakat. Memblokir dan bahkan menghalangi dan menutup semua jalan yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat.
Jika suara kita didengar oleh umat. Karena kita sebagai kyai, ustadz, penceramah dan yang senada dengan itu. Maka dengan lisan kita berjihad, bersungguh-sungguh mentransfer pemahaman yang benar ke dalam hati dan akal masyarakat. Menyingkirkan duri dosa dan maksiat yang dapat mencelakakan umat. Mengingatkan mereka dari perilaku dosa dan kecerobohan yang dapat melemparkan mereka ke dalam neraka.
Juga mendekatkan masyarakat kepada perilaku ahli surga. Yang mana kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit di dalam hati manusia.
Saudaraku..
Sebagai masyarakat umum alias awam. Kita pun tak bisa tinggal diam membiarkan bakteri maksiat dan dosa menyebar dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Minimal kita membentengi diri kita dan keluarga kita agar tak terjangkit wabah berbahaya tersebut.
Jika masing-masing keluarga memiliki pemahaman seperti ini, insyaallah maksiat dan dosa tidak akan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dan bahkan bisa jadi ia akan menyingkir dan menjauh dari daerah kita.
Saudaraku..
Jika kita tengok alam di sekitar kita saat ini. Perjudian sulit dihentikan. Rumah remang-remang semakin diminati sebagian orang. Orang yang tidak berpuasa justru bangga dengan keteledorannya. Masjid semakin sepi dari pengunjung. Al Qur’an semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. Praktek jual beli riba semakin semarak. Perzinaan semakin subur dan seterusnya.
Hal ini membuktikan bahwa tidak sedikit dari kaum muslimin dan muslimat. Dan mungkin juga kita. Yang telah bergelar al marhum. Meskipun nafas kita masih berhembus. Kita telah mengalami kematian ruh. Sebab tangan, lisan dan hati kita telah mati. Tak tergerak untuk memberikan warna bagi orang lain. Tak memiliki andil bagi perbaikan umat. Wallahu a’lam bishawab.

Selasa, 16 Oktober 2012

cinta dalam islam

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya dahsyat sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan.
Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi). Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah.
Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni. Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan. Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
1) Iman yang kuat
2) Ikhlas dalam beramal
3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal.

Kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya. Amien..
"Jika mencintai dunia niscaya kita akan binasa, Jika mencintai Allah niscaya dunia akan melayani kita" (Aa Gym)

[3:14] Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakl86 dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)